Showing posts with label opini sosial-politik-agama. Show all posts
Showing posts with label opini sosial-politik-agama. Show all posts

Tuesday, July 10, 2012

Harapan Ulama DKI untuk Calon Gubernur

Pemetaan Problematika Muslim, Potensi dan Solusinya Bagi Gubernur DKI Terpilih

 
Dibutuhkan pemimpin DKI yang komitmen berantas maksiat/kemunkaran dan aliran sesat

Selasa, 10 Juli 2012
Oleh: H. Fahmi Salim, M.A
SENIN kemarin saya mengisi acara talkshow dan dialog pilgub DKI yang dihelat oleh SALAM UI di Perpustakaan Pusat UI Depok dengan tema “Quo Vadis Muslim Ibukota?”. Besok, 11 Juli 2012, warga Jakarta akan segera memilih pemimpin brunya. Entah itu pemimpin yang baru dalam arti wajah baru dengan programnya atau wajah yang lama (incumbent) dengan semangat baru. Kita tetap berdoa semoga Pemilukada DKI berjalan lancar dan menghasilkan pemimpin 'baru' yang berkualitas dan memenuhi ekspektasi warga Jakarta.

Tulisan singkat berikut ini hanya berupa catatan harapan dan beberapa pokok pikiran ulama DKI yang sempat saya rekam dan saya catat. Secara pribadi, saya tidak berani menyebut diri ini ulama. Jadi  ini hanyalah  pokok-pokok pikiran aspirasi para ulama tentang harapannya terhadap pemimpin DKI yang telah saya rekam.

Friday, June 22, 2012

Kontroversi Menkes Kontroversial

Menkes, Kesetaraan Gender dan Kondom

 
Lebih baik Menkes dengan Menag mengintensifkan pendidikan kesehatan reproduksi berbasis agama

Rabu, 20 Juni 2012

Oleh: Henri Shalahuddin, MA

ORANG
tidak sehat, kok disuruh ngurus kesehatan! Itulah kesan pertama saya ketika mengomentari gebrakan bagi-bagi kondom ke remaja usia 14-24 tahun. Aksi Menkes ini mengingatkan cerita warga Muslim Melbourne yang berpesan kepada anaknya saat mau menghadiri farewell party di sekolahnya, “Hati-hati, jaga kemaluanmu.” Itulah nasehat orangtua kepada anaknya agar tidak tergelincir pada perzinahan. Sementara pada saat yang sama, seorang guru di sekolahnya juga berpesan pada murid-murid agar berhati-hati dan tidak lupa memakai kondom. Itulah cerita seorang ayah tentang beratnya tantangan menanamkan nilai-nilai agama kepada buah hatinya di negara sekular seperti Australia. Agama selalu dihadapkan langsung dengan sekularisme. Bahkan sekularisme terlalu jauh mencampuri urusan keluarga.

Cerita di atas bukannya tidak mungkin akan menimpa remaja di sekitar kita, bahkan anak-anak kita, na’udzu billah! Sebab seperti yang telah terencanakan, ide gila ini justru dipelopori oleh Menteri Kesehatan yang baru, Nafsiah Mboi. Tentunya gerakan Menkes ini tidak sekedar ingin menyaingi Julia Perez yang menyisipkan kondom dalam album perdananya, tapi seolah-olah ia ingin memperolok-olok Meutia Hatta (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan saat itu) yang menegur Julia Perez karena dinilai Meutia mempromosikan gaya hidup seks bebas. (http://www.sctv.co.id/infotainment/bagi-bagi-kondom-julia-perez-ditegur_19673.html)

Sunday, June 17, 2012

Wawancara KH Hasyim Muzadi soal Intoleransi Agama


Kritik Hasyim Muzadi atas tudingan intoleransi agama di Indonesia dari Dewan HAM PBB mendapat perhatian luas. Sebagai figur berpengaruh, sikap Hasyim dinilai jitu dan tepat mewakili suara mayoritas diam (silent majority). Ia menyangkal memberi angin kepada gerakan garis keras. Rilis KH Hasyim Muzadi ini beredar cepat ke berbagai media cetak, online, jejaring sosial, dan beberapa grup BlackBerry Messenger, pekan pertama Juni ini. Ketua Umum PBNU 1999-2009 itu merespon rekomendasi Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss, 23 Mei lalu, tentang intoleransi agama di Indonesia. "Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun setoleran Indonesia," tulis Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP) itu.
Hasyim menuding intoleransi agama di beberapa negara Eropa lebih buruk daripada di Indonesia. "Indonesia lebih baik toleransinya ketimbang Swiss, yang sampai sekarang tidak memperbolehkan menara masjid. Juga lebih baik dari Prancis yang masih mempersoalkan jilbab. Indonesia pun lebih baik dari Denmark, Swedia, dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada Undang-Undang Perkawinan Sejenis," Hasyim menambahkan.
Sekretaris Jenderal International Conference for Islamic Scholars (ICIS) itu juga memberi catatan pada beberapa kasus aktual yang kerap dijadikan indikasi intoleransi: Ahmadiyah, GKI Yasmin Bogor, penolakan diskusi Irshad Manji, dan konser Lady Gaga. Tentang Irshad Manji dan Lady Gaga, Hasyim menyatakan, "Bangsa mana yang mau tata nilainya dirusak? Kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya untuk kebanggaan intelektualisme kosong."
Banyak komentator di jejaring sosial memberi apresiasi. Ada pula yang menambahkan dua bukti lain keunggulan toleransi agama Indonesia: hari besar enam agama jadi hari libur nasional dan pendidikan enam agama jadi kurikulum sekolah. Di Barat dan Timur Tengah, hari besar agama hanya untuk agama mayoritas.
Sebagian komentar memberi catatan minor. Hasyim dinilai menutup mata atas pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah dan diskusi Irshad Manji. "Saya juga anti-kekerasan," Hasyim merespons. "Saya yang pasang badan mencegah FPI menyerang gereja di Pandaan. Saya nggak hanya bicara di media, juga turun lapangan. Tapi nggak mungkin semua saya tulis dalam rilis singkat itu."
Untuk mendalami pandangan Hasyim tentang potret toleransi agama di Indonesia dalam komparasi internasional, wartawan Gatra Asrori S. Karni mewawancarai Hasyim yang sedang berada di rumahnya, kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur via telepon, Selasa pagi lalu. Berikut petikannya:

Tuesday, June 12, 2012

Mesir Memilih Presiden


MESIR MENJELANG PILPRES PUTARAN KEDUA
Muhammad Nadjib 
(Komisi I DPR RI Fraksi-PAN, Ketua Kaukus Parlemen Indonesia untuk Middle East & North Africa)

Pada hari Rabu-Kamis lalu (23-24/5), rakyat Mesir memilih pemimpinnya dalam pilpres demokratis pertama pasca tumbangnya Hosni Mubarak. Hasilnya sudah terbaca bahwa capres dari Freedom and Justice Party (FJP) yang dilahirkan oleh Ikhwanul Muslimin(IM), Mohammad Mursi dengan 24% dan capres Ahmad Shafiq, mantan PM terakhir di era Mubarak, dengan 23% suara sah di urutan teratas. Hasil ini tak pelak mengejutkan publik dan pengamat dalam dan luar negeri yang dalam polling terakhir memprediksi capres Amr Moussa, mantan Sekjen Liga Arab, dan Aboul Futuh, jalur independen, yang akan melaju ke putaran kedua pilpres pada 16-17 Juni.

Dari realitas hasil pilpres putaran pertama, kontestasi di antara para kandidat capres Mesir yang berasal dari aliran politik yang beragam pun akhirnya mengerucut kepada dua arus besar, yaitu Pro-Reformasi yang diwakili capres Mursi berhadapan dengan sisa kekuatan loyalis mantan presiden Mubarak yang disimbolkan oleh capres Shafiq.

Dalam pengalaman banyak negara yang dalam proses transisi demokrasi, memang calon dari kubu rejim lama sering jadi kuda hitam, tak diunggulkan tapi meraup banyak suara. Unggulnya calon dari kubu status quo bisa jadi disebabkan oleh sejumlah faktor, diantaranya terpecah belahnya kubu reformis, masih kuatnya jaringan birokrasi-militer, keunggulan pengalaman serta besarnya pendanaan yang dimiliki kelompok status quo.

Wednesday, May 23, 2012

MUI: Kemenag Ceroboh, Buku Bergambar Nabi Beredar

Penulis: F. Hadiatmodjo   
Selasa, 22 Mei 2012 16:03
Buku Bergambar Nabi (detik)Buku Bergambar Nabi (detik)
itoday - Kementerian Agama kembali bertindak ceroboh, melakukan kerjasama penerbitan buku tanpa memperhitungkan isu sensitif yang ada dalam buku.

Pendapat itu disampaikan anggota Komisi Kajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI), Fahmi Salim kepada itoday (22/5) menanggapi beredarnya buku berjudul 'Kisah Menarik Masa Kecil Para Nabi' yang bergambar Nabi Muhammad.

Menurut Fahmi, Kementerian Agama sering ceroboh dalam hal kerjasama penerbitan buku. "Tidak boleh begitu. Kementerian Agama telah ceroboh dalam proyek kerjasama dengan penerbit buku. Boleh menerima kerjasama, tetapi harus dilihat, bukan hanya konten sesuai atau tidak, tetapi bagaimana isu sensitif. Gambar nabi itu jelas haram," tegas Fahmi.

Gambar Nabi Muhammad, menurut Fahmi, Islam mengharamkan. "Para ulama ijma' mengharamkan visual sosok Rasululloh. Itu agar Rasulullah tidak dilecehkan. Kedua, diharamkan visualisasi untuk menghindari fitnah misalkan adanya kultus berlebihan kepada Rasululloh. Kalau ada gambarnya disembah-sembah," ungkap Fahmi.

Fahmi menyangkal jika hal itu dilatarbelakangi faktor kesengajaan untuk menghina Islam. "Mudah-mudahan ini tidak ada kesengajaan, tetapi hanya kelalaian. Segera tarik buku itu dari peredaran. Karena itu akan memunculkan fitnah yang luas," kata Fahmi.

Sebelumnya diberitakan, telah beredar di wilayah Solo, Jawa Tengah, buku bergambar Nabi Muhammad. Buku berjudul 'Kisah Menarik Masa Kecil Para Nabi' itu di sejumlah halamannya terdapat ilustrasi kehidupan masa kecil hingga masa remaja Nabi Muhammad.

Ironisnya, buku yang ditulis N Khasanah RA itu memang terdapat stempel Direktoral Jendral Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI, tahun 2011, sebagai buku bantuan langsung. Buku diterbitkan oleh Nobel Edumedia (2010). Penerbit beralamat di Jl Rawagelam III No 4, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta.

Reporter: Achsin

Wednesday, March 28, 2012

Kebangkitan Islam di Turki

Kebangkitan Pos-Islamisme, Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki Memenangkan Pemilu


Judul: Kebangkitan Pos-Islamisme, Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki Memenangkan Pemilu
Penulis: Ahmad Dzakirin
Editor: Ali Ghufron
Tebal: xxiv + 376 hlm, 21 cm
Setting: Al-Muna Sarwako
Desain Cover: Riyadh Graphic Art
Penerbit: PT ERA ADICITRA INTERMEDIA



Kata Pengantar:  Yon Macmudi, Ph.D Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia  

Perkembangan Islam dan politik di Turki menjadi fenomena yang sangat menarik akhir-akhir ini. Keberhasilan kelompok Islam untuk memengaruhi proses politik nasional setelah mewujud dalam partai politik yang dominan perlu mendapatkan perhatian khusus. Bukan saja karena kehadiran para aktivis Islam yang tergabung dalam AKP (Adalet ve Kalkinma Partisi) ini mampu mengurai persoalan pelik hubungan Islam dan negara, tetapi lebih dari itu, proses panjang gerakan Islam mampu masuk dalam mainstream politik Turki dengan ideologi sekuler paling kuat didunia ini juga patut menjadi bahan diskusi. Dibalik kesuksesan AKP dalam meraih dukungan politik yang kuat di Turki tentu memiliki banyak faktor yang saling berkaitan.
Buku yang ditulis oleh Ahmad Dzakirin ini mencoba untuk melihat sisi-sisi kemenangan kelompok “islamis” yang terlembaga melalui AKP dan pengaruh sosok Recep Tayyib Erdogan dalam mendongkrak popularitas partai. Tentu saja disamping karena didukung oleh kemampuan institusi dalam menggerakkan resources yang dimiliki (Resources Mobilization Theory) ditambah dengan tokoh fenomenal yang memiliki reputasi baik, dinamika sosial politik Turki berpengaruh dalam mengantarkan AKP mendapatkan momentum.

Sunday, March 25, 2012

“MIUMI Himpun Potensi Ulama Muda Lintas Mazhab Ahlus Sunnah”

Fahmi Salim, MA

Kamis, 22 Maret 2012
Share |

 
 


SELASA (28/02/2012), bertempat di Hotel Grand Sahid Jakarta dideklarasikan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Acara peluncurannya dihadiri banyak tokoh. Di antaranya ada intelektual muda, Dr Adian Husaini, Budayawan Taufiq Ismail, Dr. Din Syamsuddin, Fadhlan Garamatan, Dr Bambang Wijayanto (KPK), Dr Yunahar Ilyas, MA (Muhammadiyah), KH. Cholil Ridwan (MUI), Dr Mahfudz
MD (MK), Dr Fuad Bawazier, Sekjen FUI, M Khatath juga Farid Ogbah.

Apa dan bagaimana kiprah MIUMI? Belum lama ini, hidayatullah.com mewawancarai Wakil Sekjen MIUMI, Fahmi Salim, MA yang juga penulis buku, “Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal”. Inilah petikan wawancaranya.*
***
Mengapa harus ada MIUMI, Bukankah sudah banyak lembaga Islam, mengapa harus membentuk lembaga baru? 

Sejauh pengamatan saya hingga lahirnya MIUMI, belum ada lembaga atau komunitas yang memiliki keunikan seperti MIUMI. Selama ini, saya melihat ormas-ormas Islam sibuk mengurusi internal rumah tangga mereka karena mengelola banyak kader anggota dan asset lembaga pendidikan yang mereka dirikan di seluruh tanah air, belum lagi menjalankan program masing-masing lajnah atau majelis atau divisi organisasi. Ormas seperti NU dan Muhammadiyah itu strukturnya ibarat Negara dalam Negara.

Tentu ini menguras banyak energi, perhatian dan sumber daya. Potensi dan asset ormas Islam itu patut kita syukuri dan apresiasi, dan harus terus dikembangkan sebagai wujud dinamika Islam di Indonesia.

Namun karena postur dan asetnya yang sedemikian besar, dapat memperlambat geraknya dalam merespon tantangan keumatan baik ideologi, pemikiran, dsb. Tentu di atas semua itu ada MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menjadi wadah silaturahim ulama, zuama dan cendekiawan Muslim.

Hampir semua ormas Islam menempatkan wakil kader terbaiknya di dalam struktur pimpinan dan komisi-komisi MUI. Produk fatwa MUI juga telah jadi rujukan para pengambil kebijakan di negeri ini, dan setiap RUU yang akan disahkan DPR bersama Pemerintah yang terkait kehidupan dan kemaslahatan keagamaan, MUI selalu dilibatkan. Ini positif. Tapi disisi lain, fatwa MUI tidak jarang diabaikan dan diacuhkan oleh Pemerintah dan unsur masyarakat lain seperti Fatwa Rokok, Fatwa Ahmadiyah, Fatwa Natal Bersama, Fatwa Doa Bersama Lintas Agama, dan lain-lain sehingga ada kesan “Nu’minu bi ba’dhin wa Nakfuru bi ba’dhin” (kita ambil sebagiannya, dan kita tolak sebagian lainnya). Ada kelompok yang menyatakan lantang “Indonesia bukan Negara Agama” sehingga Negara harus steril dari intervensi agama dan otoritas ulama dalam menciptakan struktur sosial di Indonesia. Di sisi lain, tampak kekuatan Islam terpecah dan tak jarang tak satu suara menyikapi persoalan strategis bangsa dan umat.
Nah, di sinilah, MIUMI menghimpun potensi ulama muda lintas mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk mengisi peran-peran yang telah ataupun yang belum dimainkan oleh ormas-ormas Islam dan MUI. Selebihnya klik disini

Monday, March 19, 2012

IBRAH DARI MATA AIR PEMIKIRAN DAN JIHAD DAKWAH DR.M.NATSIR

Muhammad Natsir di Mata Prof. Dr. Kamal Hassan

Senin, 19 Maret 2012

Hidayatullah.com--Muhammad Natsir adalah cendikiawan yang berpijak di bumi tapi berpandukan kepada panduan Ilahi. Itulah salah satu pandangan tentang sifat kecendikiawanan Muhammad Natsir yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Mohammad Kamal Hassan, dosen International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) pada acara “Special Lecture Series on Contemporary Muslim Thinkers and Scholars of Islam” dengan tema “Muhammad Natsir: His Life dan Thought” di kampus ISTAC, IIUM Kuala Lumpur Campus, Taman Duta, Kuala Lumpur, Rabu, 14 Maret 2012 lalu.

Gonjang-ganjing Putusan MK tentang Hak Perdata Anak di Luar Pernikahan

Putusan MK Melegalisasi Perzinahan

Suara Islam Online, Shodiq Ramadhan | Kamis, 15 Maret 2012 | 07:26:41 WIB | Hits: 277 | 0 Komentar
HM. Luthfie Hakim
Wakil Sekretaris Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat


Akhir-akhir ini Mahkamah Konstitusi (MK) tengah dibuat sibuk oleh salah-satu putusannya berkaitan dengan permohonan judicial review yang diajukan oleh Hj. Aisyah Mochtar alias Machica Mochtar, dan anak semata wayangnya yang baru berumur 16th M. Iqbal Ramadhan.

Machica mengajukan permohonan judicial review atas UU Perkawinan No.1 Tahun 1974 pasal 2 ayat (2) tentang pencatatan perkawinan dan pasal 43 ayat (1) tentang hubungan perdata anak di luar kawin. Inti permohonannya adalah, karena perkawinannya dengan (alm.) Moerdiono, mantan Mensesneg di jaman Orde Baru, tidak dicatatkan ke Kantor Urusan Agama (KUA) maka berakibat perkawinannya itu tidak diakui negara. Akibat lebih lanjut, anak yang dilahirkannya, Iqbal, menjadi berstatus seperti anak di luar kawin sebagaimana diatur dalam pasal 43 ayat (1) bahwa “anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya”.

Thursday, January 19, 2012

10 KRITERIA ALIRAN SESAT


Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sebuah pedoman yang berisi 10 kriteria untuk mengidentifikasi sebuah ajaran dinyatakan aliran sesat.

"Suatu paham atau aliran keagamaan dapat dinyatakan sesat apabila memenuhi salah satu dari sepuluh kriteria," kata Ketua Panitia Pengarah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI Tahun 2007, Yunahar Ilyas, kepada wartawan di Jakarta, Selasa.

Sepuluh kriteria itu adalah:
1.    1. mengingkari Rukun Iman dan Rukun Islam,
     2. meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai Dalil Syar`i (Al Qur`an dan As Sunah),
     3. menyakini turunnya wahyu setelah Al Qur`an,
     4. mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al Qur`an, dan
     5. melakukan penafsiran Al Qur`an yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.
     6. mengingkari kedudukan Hadist Nabi sebagai sumber ajaran Islam,
     7. melecehkan dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul,
     8. mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir
     9. mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah, dan
     10.mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar`i.

Namun, Sekretaris Umum MUI Ichwan Sam menegaskan bahwa penetapan kriteria tersebut tidaklah dapat digunakan oleh sembarang orang dalam menetapkan bahwa suatu aliran itu sesat dan menyesatkan. "Ada mekanisme dan prosedur yang harus dilalui dan dikaji terlebih dahulu. Harus diingat bahwa tidaklah semudah itu dalam mengeluarkan fatwa," kata Ichwan.

Di dalam pedoman MUI tersebut dinyatakan, sebelum penetapan kesesatan suatu aliran atau kelompok terlebih dahulu dilakukan penelitian dengan mengumpulkan data, informasi, bukti dan saksi, tentang paham, pemikiran, dan aktivitas kelompok atau aliran tersebut oleh Komisi Pengkajian.

Setelah itu, Komisi Pengkajian akan meneliti dan melakukan pemanggilan terhadap pimpinan aliran atau kelompok dan saksi ahli atas berbagai data, informasi, dan bukti yang telah didapat. Hasilnya akan disampaikan kepada Dewan Pimpinan.

Kemudian, bila dipandang perlu, maka Dewan Pimpinan akan menugaskan Komisi Fatwa untuk membahas dan mengeluarkan fatwa.

"Dalam batang tubuh fatwa mengenai aliran sesat juga ada poin yang menyatakan akan menyerahkan segala sesuatunya kepada aparat hukum yang berlaku dan menyerukan agar masyarakat jangan bertindak sendiri-sendiri," kata Ichwan.(*)

Wednesday, December 7, 2011

UJIAN POLITIK KAUM ISLAMIS MESIR


Sempat diisukan santer, bahwa pemilu pertama pascarevolusi di Mesir akan ditunda akibat eskalasi protes di Tahrir Square terhadap Dewan Agung Militer (SCAF) dengan tuntutan alih kekuasaan ke tangan sipil. Di luar dugaan, Pemilu Mesir akhirnya sukses digelar pada Senin - Selasa (28-29/11). Dibayang-bayangi kegagalan, ternyata rakyat Mesir membungkam semua asumsi dengan tingkat partisipasi 70% yang mencengangkan para pengamat dalam dan luar negeri. Kondisi ini tak lepas dari suasana batin seluruh rakyat Mesir yang rindu berpartisipasi dalam pemilu yang bebas dan jurdil untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak revolusi yang dilakukan para Opsir Bebas di Mesir tahun 1953 yang menggulingkan Raja Farouk.

Monday, November 14, 2011

Politik Luar Negeri AS Pascarevolusi Arab


Seperti sudah diprediksi, perkembangan realitas politik di Arab dan perubahan konstelasi status quo pascarevolusi memaksa Pemerintah AS untuk mengubah strategi politik luar negerinya, setidaknya dalam jangka pendek. AS biasanya haus darah dan naik pitam soal isu-isu keamanan strategis di Timur Tengah. Namun, dalam isu nuklir Iran, misalnya, AS kini tidak mau mengambil opsi serangan militer seperti yang diinginkan oleh ‘watch dog’ AS di kawasan yang bernama Israel. Pengaruh revolusi Arab terhadap perubahan strategi politik AS di Timur Tengah cukup kentara dalam kasus Iran dimana AS menghadapi posisi dilematis yang sangat besar.

Monday, November 7, 2011

Pamor Islam Politik Pasca Revolusi Arab


Oleh Fahmi Salim, MA.

Aksi protes jalanan rakyat Arab terhadap kediktatoran para pemimpinnya pada ‘musim semi’ lalu telah sukses menumbangkan tokoh-tokoh politisi gaek seperti Zinel Abidin ben Ali, Hosni Mobarak, dan Kolonel Moammar Qaddafy. Nasib tragis menimpa Ben Ali yang kini dalam suaka politik di Arab Saudi. Hosni Mobarak pun telah jadi pesakitan karena tuduhan korupsi dan pelanggaran HAM selama aksi protes berlangsung. Nasib Qaddafy lebih tragis, ia ditangkap dan ditembak mati oleh rakyatnya sendiri di Sirte, kota kelahirannya.

Friday, October 21, 2011

Skenario Mesir Pasca Mubarak


Sabtu, 12/02/2011 19:10 WIB | Arsip | Cetak
Oleh: Fahmi Salim*

Nilai strategis Mesir telah melegenda sejak dulu hingga era modern. Ditakdirkan Tuhan menjadi salah satu cradle of civilization yang tertua di dunia dengan lembah sungai Nil yang subur dan monumen-monumen megah seperti Pyramid dan Sphinx, Mesir juga adalah saksi bagi kejayaan Alexander The Great dan Ratu Cleopatra. Dalam sejarah misi profetik Tuhan, Mesir juga saksi pembebasan Nabi Musa terhadap umat Yahudi dari perbudakan Fir’aun, tempat eksodusnya Maryam dan Nabi Isa dari penindasan Herodus dari Roma, dan daerah asal Maria Qibtiya, budak perempuan hadiah dari Muqauqis Kepala Gereja Koptik abad 6 M yang diperistri Nabi Muhammad.

Selanjutnya baca di sini

Tsunami Politik Mesir


Oleh Fahmi Salim, MA

Setelah rakyat Tunisia sukses menumbangkan rezim Presiden Zine Alabidin ben Ali pada 15 Januari 2011 melalui Revolusi Melati, tampaknya dunia politik Timur Tengah tak henti digoyang oleh gempa politik yang luar biasa. Para pengamat internasional memprediksikan gempa politik Tunisia akan melahirkan tsunami politik yang akan menyapu bersih rezim-rezim renta yang korup dan berkolaborasi dengan AS-Israel. Teranyar, pada 25 Januari lalu meletus protes anti Rezim Hosni Mubarak di Kairo yang menjalar ke seluruh pelosok negeri hingga hari ini.